Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014
Mengapa mencintaimu terasa begitu salah dan menyakitkan? Bagimu manusia yang mengerti betapa sakitnya merindu, mengapa kau terus menyiksa ku? Mungkinkah kau tahu bagaimana keadaanku saat ini? Akankah? Aku tidak akan membiarkan dirimu mengetahuinya. Setidaknya waktu kita yg terampas  terlalu banyak olehmu, tak ingin aku rampas untukku. Biarlah ku buang sejauhjauhnya. Kubur sedalamdalamnya. Tak perlu kau ikut merasakan sakitku. Cukup kau resapi kebahagiaanku yang teramat mencintaimu. Mengapa saling mencintai denganmu terasa begitu salah dan menyakitkan...?

Ma Salah? Mas Alah? Masa Lah? Masal Ah?

Bandung, 6 Oktober 2014 Masalah adalah sesuatu yang selalu muncul, dan tidak akan pernah berhenti muncul di hidup kita sampai kita meninggal. Hidup kita bukan hanya sekadar untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Masalah-masalah itu datang bukan hanya untuk kita usir dengan solusi. Namun, kita juga harus bisa menemukan sebuah atau beberapa solusi yang tepat untuk setiap masalah. Dan tidak berhenti sampai disitu. kita juga harus bisa menjadikan setiap masalah itu sebagai cermin, pengalaman, juga tolak ukur dalam bertindak untuk kehidupan kita selanjutnya. Karena hidup kita tidak berhenti setelah masalah selesai. Justru masalahlah yang berhenti setelah hidup kita telah usai. Manusia adalah homo socius. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari orang lain. Termasuk dalam pemecahan masalah kita. Tidak semua masalah bisa kita atasi sendiri. Tidak semua masalah bisa kita temukan solusinya sendiri. Di saat kita bingung, ingatlah selalu ada manusia bernama teman yang b...

Saya. Foto. Simbol.

Menurut saya, foto adalah sebuah simbol. Kenapa? Karena simbol pada dasarnya tidak memiliki makna. Kita lah yang memberi makna pada simbol tersebut. Foto pun. Dan seringnya, kita lebih mengingat momen dibanding tanggal . Mengertikah kamu, betapa aku ingin menghargai setiap momen di hidupku? Mengertikah kamu, sebuah momen tidak akan terulang dua kali?   . ........ Mengertikah kamu sekarang, mengapa aku begitu mencintai fotografi? copyright photo: MK
Seorang anak lelaki bertanya pada ibunya, "Mah kenapa itu tetehnya nangis?" Ibunya menggeleng tidak tahu, "Sana atuh tanya sendiri sama tetehnya." "Teh, kenapa nangis?" "Teteh kenapa nangis?" "Kenapa nangis, Teteh?" ... Kenapa? Mungkin dia benci pada dunia. Bukan,  mungkin dia benci pada isi dunia. Kadang emosi tersebut meluap begitu saja. Tanpa tak tertahankan, Tanpa mau terbendung. Tanpa bisa disadari. Sakit? Ya, dia sakit.  Sakit hati. Hanya karena hal sepele.  Selembar 5 ribu yang mungkin lebih berarti jika dimiliki orang lain. Sakit hati? Entah pula pada siapa. Tak tau pula siapa yang harus disalahkan. Aa yang duduk di dekat pintu kah? Ibu yang duduk di depan kah?  Teteh yang duduk di samping jendela kah? Bapak yang duduk di balik setir kah? Atau manusia di atas kami semua? Atau justru dirinya sendiri ? Tak sadarkah ia? Dengan mengeluh tentang dunia, dia menyiksa dirinya sendiri. Menyiksa hatinya. Denga...

Manusia

Hm, begitulah manusia. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah   tiada. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah pergi. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah berlalu. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah hilang. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah bukan miliknya. Hm, begitulah manusia. Kadang masih menyandingkan yang lalu dengan yang baru. Kadang menolak untuk melepas yang sudah terhempas. Menolak meninggalkan masa lalu, bahkan memilih untuk terjebak di dalamnya. Hai, manusia. Tahukah kamu? Jika roda tidak berputar, tidak ada angkot yang sampai ke terminal. Tidak ada kereta yang sampai ke stasiun. Tak ada pesawat yang sampai ke bandara. Tak ada travel yang sampai ke pool. Jika roda tidak berputar, tak ada yang bisa mencapai tujuannya. Tahukah kamu? Hidup pun seperti itu. Hidup berputar. Hidup terus berjalan. Apapun yang kamu lakukan untuk bertahan di masa lalu, bertahan di semua kenangan, tidak akan ada gunanya. Mau atau tidak, hi...

Aku, Kami, Kamu, Kalian, Kita, Dia, Mereka, dan Amarah

Kadang aku ingin bertanya. Namun entah pada siapa. Padanya? Padamu? atau Pada diriku sendiri? Aku, kamu, kalian, kita. Dia, mereka. Tidak ada yg tahu pasti siapa yg memulainya. Tidak tahu pasti siapa yg patut disalahkan. Mungkin bukan salah siapapun. Tapi kenapa? Kenapa kita semua harus hidup di dunia seperti ini? Dunia penuh amarah. Apa semuanya harus dimulai dengan amarah? Diakhiri dengan amarah pula? Harus bagaimana...