Seorang anak lelaki bertanya pada ibunya, "Mah kenapa itu tetehnya nangis?"Ibunya menggeleng tidak tahu, "Sana atuh tanya sendiri sama tetehnya.""Teh, kenapa nangis?" "Teteh kenapa nangis?" "Kenapa nangis, Teteh?"
...
Kenapa?
Mungkin dia benci pada dunia.
Bukan, mungkin dia benci pada isi dunia.
Kadang emosi tersebut meluap begitu saja.
Tanpa tak tertahankan, Tanpa mau terbendung. Tanpa bisa disadari.
Sakit?
Ya, dia sakit. Sakit hati.
Hanya karena hal sepele. Selembar 5 ribu yang mungkin lebih berarti jika dimiliki orang lain.
Sakit hati?
Entah pula pada siapa. Tak tau pula siapa yang harus disalahkan.
Aa yang duduk di dekat pintu kah? Ibu yang duduk di depan kah? Teteh yang duduk di samping jendela kah? Bapak yang duduk di balik setir kah? Atau manusia di atas kami semua?
Atau justru dirinya sendiri ?
Tak sadarkah ia?
Dengan mengeluh tentang dunia, dia menyiksa dirinya sendiri. Menyiksa hatinya.
Dengan mengeluh tentang dunia, justru sakitnya bertambah. Dan kian lama akan semakin, semakin sakit.
Dengan mengeluh tentang dunia, secara langsung dia telah meragukan keagungan penciptanya.
Mungkin dia lupa, Ada Dia yang Mahabesar dan Mahakuasa.
Mungkin dia lupa. Semua ini telah diatur.
Mungkin dia lupa. Tidak ada manusia yang diberi cobaan diluar kemampuannya.
Mungkin dia lupa. Segala cobaan dan rintangan adalah sarana bagi manusia untuk terus bersyukur kepada-Nya.
Teteh itu menarik nafas secara teratur. Mencoba mengatur detak jantungnya yang memburu. Sesaat dia sadar. Dengan mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan membiarkan apa yang diberi oleh-Nya kembali diaduk oleh tangan-Nya, insyaAllah dia akan mendapat manfaat yang lebih besar dibandingkan terus meratapi, merutuk, dan menyesali yang sudah lewat.
Comments
Post a Comment