Skip to main content

Sahabat

Dua manusia
Satu tujuan
Satu cita-cita

B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C.

B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu.
B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya.

Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan.

Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang yang sama bukan…?

Dan ketika B mengetahui kenyataan itu. Rasanya, pahit. Rasanya, membingungkan. Rasanya, bersalah. Rasanya, tidak enak. Semua dilematis itu simpangsiur di kepalanya. Semua perasaan itu bercampur aduk di hatinya.

Tanpa ia sadari, mungkin ia telah menyakiti sahabatnya, orang yang amat ia sayangi. Tanpa ia sadari, melalui semua cerita itu.

Dan sebuah kejadian itu. Akibat B mengatakan semua yang diketahuinya pada C, semua berubah. C pun merasa semua yang telah ia lakukan, sia-sia. Usahanya untuk menyembunyikan hal itu—perasaannya—dan semua hal yang ada di hatinya, semua sia-sia. Sekarang semua terbuka sudah.

Keduanya diam, tidak berkata-kata. Hanya bisa menyesal dalam hati. Hanya bisa merasa bersalah dalam hati. Kata maaf, tak bisa terlontarkan, terhalangi oleh rasa bersalah yang amat besar. Dan mereka pun, berpisah dalam diam. Walaupun dalam hati mereka yang terdalam, mereka masih saling menyayangi.

Keesokan harinya, semua berlangsung seperti biasa. Mereka berusaha bersikap biasa. Walaupun perasaan mereka, antar mereka ataupun dari mereka, tak akan pernah sama seperti dulu.

Yang terpenting adalah.
Mereka masih bersahabat.

Sahabat, itulah yang terpenting.

Sekian.
-MKc-

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...