Dua manusia
B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu.
Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan.
Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang yang sama bukan…?
Dan ketika B mengetahui kenyataan itu. Rasanya, pahit. Rasanya, membingungkan. Rasanya, bersalah. Rasanya, tidak enak. Semua dilematis itu simpangsiur di kepalanya. Semua perasaan itu bercampur aduk di hatinya.
Tanpa ia sadari, mungkin ia telah menyakiti sahabatnya, orang yang amat ia sayangi. Tanpa ia sadari, melalui semua cerita itu.
Dan sebuah kejadian itu. Akibat B mengatakan semua yang diketahuinya pada C, semua berubah. C pun merasa semua yang telah ia lakukan, sia-sia. Usahanya untuk menyembunyikan hal itu—perasaannya—dan semua hal yang ada di hatinya, semua sia-sia. Sekarang semua terbuka sudah.
Keduanya diam, tidak berkata-kata. Hanya bisa menyesal dalam hati. Hanya bisa merasa bersalah dalam hati. Kata maaf, tak bisa terlontarkan, terhalangi oleh rasa bersalah yang amat besar. Dan mereka pun, berpisah dalam diam. Walaupun dalam hati mereka yang terdalam, mereka masih saling menyayangi.
Keesokan harinya, semua berlangsung seperti biasa. Mereka berusaha bersikap biasa. Walaupun perasaan mereka, antar mereka ataupun dari mereka, tak akan pernah sama seperti dulu.
Yang terpenting adalah.
Sahabat, itulah yang terpenting.
Satu tujuan
Satu cita-cita
B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya.
C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu
semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya
bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C.
B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu.
B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah
sahabatnya.
Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan.
Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang yang sama bukan…?
Dan ketika B mengetahui kenyataan itu. Rasanya, pahit. Rasanya, membingungkan. Rasanya, bersalah. Rasanya, tidak enak. Semua dilematis itu simpangsiur di kepalanya. Semua perasaan itu bercampur aduk di hatinya.
Tanpa ia sadari, mungkin ia telah menyakiti sahabatnya, orang yang amat ia sayangi. Tanpa ia sadari, melalui semua cerita itu.
Dan sebuah kejadian itu. Akibat B mengatakan semua yang diketahuinya pada C, semua berubah. C pun merasa semua yang telah ia lakukan, sia-sia. Usahanya untuk menyembunyikan hal itu—perasaannya—dan semua hal yang ada di hatinya, semua sia-sia. Sekarang semua terbuka sudah.
Keduanya diam, tidak berkata-kata. Hanya bisa menyesal dalam hati. Hanya bisa merasa bersalah dalam hati. Kata maaf, tak bisa terlontarkan, terhalangi oleh rasa bersalah yang amat besar. Dan mereka pun, berpisah dalam diam. Walaupun dalam hati mereka yang terdalam, mereka masih saling menyayangi.
Keesokan harinya, semua berlangsung seperti biasa. Mereka berusaha bersikap biasa. Walaupun perasaan mereka, antar mereka ataupun dari mereka, tak akan pernah sama seperti dulu.
Yang terpenting adalah.
Mereka masih bersahabat.
Sahabat, itulah yang terpenting.
Sekian.
-MKc-
Comments
Post a Comment