Skip to main content

far, far away.... from me


Sedih, sakit.

Yang masih saja membuatku bingung hingga saat ini adalah,
”Apa salah gua? Kenapa lu ngejauhin gua?”
Dua buah pertanyaan yang sangat mudah dijawab, jika ada jawabannya. Tentu sulit jika kau memang tak punya alasan apapun untuk menjauhiku.

Pada awalnya, aku yang kaget dan bingung hanya berfikir, mungkin ini hanya perasaanku saja.
Semakin lama, perasaan itu makin dalam dan makin meluas. Sampai akhirnya tidak terbendung lagi. Dan rasa tidak enak itu pun keluar.

Aku tahu perasaanku ketika itu benar. Aku tahu kau memang menjauhiku. Dan hanya satu hal yang aku ingin ketahui tentang itu: KENAPA?
Satu kata yang bisa mengawali semua pertanyaanku.

Kenapa lu tiba-tiba tiis?
Kenapa lu jadi jahat?
Kenapa lu ga pernah waro gua lagi?
Kenapa bahasa lu berubah, jadi kasar?
Kenapa lu tiba-tiba jauhin gua?
....
Kenapa....?
Kenapa..?
Kenapa??

Dan ribuan kalimat berawalan kata ’kenapa’ yang terlontar dari mulutku, mungkin memang tak pernah cukup untuk membuatmu buka mulut, sekedar untuk menjawab barangkali satu atau dua pertanyaan.
Dan kenyataannya, kau tak pernah menjawab pertanyaanku—satupun!—dengan jelas.
Satu jawaban singkat mungkin bisa memuaskan, dan menenangkan hatiku, asal kau menjawab dengan jujur, dan jelas.

Pada akhirnya, aku menyerah. Kupikir kau hanya butuh waktu sendiri.
Mungkin bukan sendiri?
Kau butuh waktu untuk menjalani hidupmu, tanpa aku?

Pada akhirnya aku membiarkan semua berjalan begitu saja, tanpa berusaha menghalangi.
Tanpa berusaha peduli
Tanpa berusaha merubah.

Tapi, semua itu tidak selalu berhasil. Selalu ada saja saat dimana aku tetap peduli padamu, tanpa aku mau. Karena yang aku rasakan adalah, sejauh apapun kita saat ini, tetap aja dulu kita dekat. Dan kadang—sering—aku masih merasakan kedekatan kita itu, sekalipun saat ini kita telah jauh.

Dan ketika kau—secara tiba tiba juga—mulai baik lagi padaku, mulai mewaro aku lagi, kenapa kau masih saja tak mau menjawab pertanyaanku?

Apa terlalu sulit bagimu?
Atau kau tak pernah menemukan jawabannya?

Hanya kau dan tuhan kita lah yang tahu.

Yang aku tahu, sebaik-baiknya dirimu saat ini, kau tetap bukan kau yang dulu. Kau tetap tidak sebaik dulu. Karena ’kau’, bukan lah kau.

Dan mungkin, memang tak akan seperti dulu lagi.

-MKc-

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...