Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kisah

Lucunya Manusia

Lihatlah manusia-manusia yang tak bisa sabar itu. Menuntut segalanya untuk datang segera. Tak inginkah mereka nikmati prosesnya? Ingin langsung dihampiri hasilnya saja. Merasa sudah cukup usaha, lalu lupa dengan Yang Maha Kuasa. Yakin sekali bisa dapat apa yang diinginkannya. Berjalan lurus dengan percaya dirinya. Oh, saking congkaknya, berjalan di lajur yang salah terasa wajar saja. Tiba-tiba, tak terlihat jurang di depan mata. Kaki kehilangan pijakan, jatuh bebas mengikis udara. Jatuh itu yang buat mereka ingat Sang Pencipta. Untuk kemudian sebagian memohon dengan nelangsa. Sebagian lagi sibuk memaki-maki-Nya. Seolah mereka terjerumus akibat-Nya. Mereka lupa, merekalah yang memilih jalannya. Bukan jalan yang diterangi dengan cahaya-Nya. Terukir dengan indah dalam kitab yang tak jarang hanya jadi penghias di balik pintu kaca. Jadi, salah siapa? Kadang manusia-manusia itu begitu lucu.

Let's Escape for a While

Entah mengapa, kadang dunia nyata dan mimpi terasa begitu saru. Tak hanya sekali, berkali-kali aku rasakan perasaan seperti ini. Hampa melayang seolah aku terbang. Tidak, aku tidak bahagia. Aku tidak pula sedih. Entah pula apa yg aku rasakan. Terkadang, segala yang ada di hadapanku ini terasa tidak nyata. Entahlah, kadang aku berpikir semua hanyalah ilusiku. Mimpi yang terlalu indah itu membawaku menjauh dari dunia nyata. Kenyataan bahwa dunia nyata ini adalah sesuatu yang fana..... menohokku lebih dalam dan membuatku ingin berhenti berpikir. Tidak, tidak. Aku bukan ingin berhenti berpikir. Lebih tepatnya, aku berusaha untuk menolak segala realitas di dunia nyata ku. Bagaimana tidak, dunia nyata ini ternyata fana dan dunia mimpiku lebih menyenangkan! Mirisnya, aku ingin terkungkung di dunia mimpi selamanya. Mental bodoh dan lemah. Menolak untuk menghadapi tantangan hidup, cih!

Dualisme dalam Satu Jiwa

Aku benci padamu. Aku benci pada setiap ucap yg tak pernah terwujud. Aku benci pada dinginmu. Aku benci pada tidak peka mu. Aku benci padamu. Namun aku teramat mencintaimu. Terlalu dalam. Terlalu mencintai segala ucap dan bukan ucapmu yang selalu berhasil membuat hatiku tersenyum. Bibirku tersenyum.  Aku terlalu mencintaimu, sehingga aku selalu bisa memaafkanmu. Mungkin terlalu mudah memaafkanmu. Tanpa perlu kau memintanya. Bahkan mungkin sudah kuberikan maaf itu sebelum kau menyadarinya. Sebelum kau tahu kesalahanmu. Sebelum kau sadar kalau kau seharusnya meminta maaf.  Mungkin aku terlalu menyayangimu. Sehingga maaf itu diberi secara percuma. Mungkin sebagai hadiah. Simbol rasa cinta yang akan sulit kau pahami.  Apakah orang sepertimu akan menyadarinya? Manusia tiis dan polos yang selalu iya saat berkata iya dan tidak saat berkata tidak. Begitu apa adanya. Begitu jujur. Pernahkah kau merasakan sakit? Mungkin... sakit yang sama?  Apakah mung...
Mengapa mencintaimu terasa begitu salah dan menyakitkan? Bagimu manusia yang mengerti betapa sakitnya merindu, mengapa kau terus menyiksa ku? Mungkinkah kau tahu bagaimana keadaanku saat ini? Akankah? Aku tidak akan membiarkan dirimu mengetahuinya. Setidaknya waktu kita yg terampas  terlalu banyak olehmu, tak ingin aku rampas untukku. Biarlah ku buang sejauhjauhnya. Kubur sedalamdalamnya. Tak perlu kau ikut merasakan sakitku. Cukup kau resapi kebahagiaanku yang teramat mencintaimu. Mengapa saling mencintai denganmu terasa begitu salah dan menyakitkan...?

Ma Salah? Mas Alah? Masa Lah? Masal Ah?

Bandung, 6 Oktober 2014 Masalah adalah sesuatu yang selalu muncul, dan tidak akan pernah berhenti muncul di hidup kita sampai kita meninggal. Hidup kita bukan hanya sekadar untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Masalah-masalah itu datang bukan hanya untuk kita usir dengan solusi. Namun, kita juga harus bisa menemukan sebuah atau beberapa solusi yang tepat untuk setiap masalah. Dan tidak berhenti sampai disitu. kita juga harus bisa menjadikan setiap masalah itu sebagai cermin, pengalaman, juga tolak ukur dalam bertindak untuk kehidupan kita selanjutnya. Karena hidup kita tidak berhenti setelah masalah selesai. Justru masalahlah yang berhenti setelah hidup kita telah usai. Manusia adalah homo socius. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari orang lain. Termasuk dalam pemecahan masalah kita. Tidak semua masalah bisa kita atasi sendiri. Tidak semua masalah bisa kita temukan solusinya sendiri. Di saat kita bingung, ingatlah selalu ada manusia bernama teman yang b...

Saya. Foto. Simbol.

Menurut saya, foto adalah sebuah simbol. Kenapa? Karena simbol pada dasarnya tidak memiliki makna. Kita lah yang memberi makna pada simbol tersebut. Foto pun. Dan seringnya, kita lebih mengingat momen dibanding tanggal . Mengertikah kamu, betapa aku ingin menghargai setiap momen di hidupku? Mengertikah kamu, sebuah momen tidak akan terulang dua kali?   . ........ Mengertikah kamu sekarang, mengapa aku begitu mencintai fotografi? copyright photo: MK
Seorang anak lelaki bertanya pada ibunya, "Mah kenapa itu tetehnya nangis?" Ibunya menggeleng tidak tahu, "Sana atuh tanya sendiri sama tetehnya." "Teh, kenapa nangis?" "Teteh kenapa nangis?" "Kenapa nangis, Teteh?" ... Kenapa? Mungkin dia benci pada dunia. Bukan,  mungkin dia benci pada isi dunia. Kadang emosi tersebut meluap begitu saja. Tanpa tak tertahankan, Tanpa mau terbendung. Tanpa bisa disadari. Sakit? Ya, dia sakit.  Sakit hati. Hanya karena hal sepele.  Selembar 5 ribu yang mungkin lebih berarti jika dimiliki orang lain. Sakit hati? Entah pula pada siapa. Tak tau pula siapa yang harus disalahkan. Aa yang duduk di dekat pintu kah? Ibu yang duduk di depan kah?  Teteh yang duduk di samping jendela kah? Bapak yang duduk di balik setir kah? Atau manusia di atas kami semua? Atau justru dirinya sendiri ? Tak sadarkah ia? Dengan mengeluh tentang dunia, dia menyiksa dirinya sendiri. Menyiksa hatinya. Denga...

Manusia

Hm, begitulah manusia. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah   tiada. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah pergi. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah berlalu. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah hilang. Kadang masih merasa memiliki apa yang sudah bukan miliknya. Hm, begitulah manusia. Kadang masih menyandingkan yang lalu dengan yang baru. Kadang menolak untuk melepas yang sudah terhempas. Menolak meninggalkan masa lalu, bahkan memilih untuk terjebak di dalamnya. Hai, manusia. Tahukah kamu? Jika roda tidak berputar, tidak ada angkot yang sampai ke terminal. Tidak ada kereta yang sampai ke stasiun. Tak ada pesawat yang sampai ke bandara. Tak ada travel yang sampai ke pool. Jika roda tidak berputar, tak ada yang bisa mencapai tujuannya. Tahukah kamu? Hidup pun seperti itu. Hidup berputar. Hidup terus berjalan. Apapun yang kamu lakukan untuk bertahan di masa lalu, bertahan di semua kenangan, tidak akan ada gunanya. Mau atau tidak, hi...

Aku, Kami, Kamu, Kalian, Kita, Dia, Mereka, dan Amarah

Kadang aku ingin bertanya. Namun entah pada siapa. Padanya? Padamu? atau Pada diriku sendiri? Aku, kamu, kalian, kita. Dia, mereka. Tidak ada yg tahu pasti siapa yg memulainya. Tidak tahu pasti siapa yg patut disalahkan. Mungkin bukan salah siapapun. Tapi kenapa? Kenapa kita semua harus hidup di dunia seperti ini? Dunia penuh amarah. Apa semuanya harus dimulai dengan amarah? Diakhiri dengan amarah pula? Harus bagaimana...

Hujan

dingin - basah - galau - gamang - tiis - tiris - badai - tornado - kabut - pudar --" hujan itu indah.. hujan itu .. romantis hujan itu .. menyimpan banyak cerita,                 menyimpan banyak kenangan. hujan itu .. sebuah tontonan menyenangkan,                 dimana jutaan -- milyaran -- butiran air jatuh dari langit. hujan itu .. sebuah anugerah tuhan. hujan itu .. misteri                 sebuah misteri alam hujan itu .. sebuah jalan.                 sebuah jalan menuju keajaiban.                 sebuah jalan menuju ....                 munculnya pelangi. hujan itu indah. sekian.

Surat untuk Komet

Dear Komet. Hai, Komet.  Kamu tau ga? Kita punya lintasan masing-masing, yang tidak bisa dilanggar. Aku gabisa masuk lintasan mu, dan kamu pun ga bisa masuk ke lintasan ku. Lintasan mu lonjong. Jauh ke ujung tata surya. Aku yakin kalo kamu sering ngejelajahin tatasurya. Jadi kamu udah sering banget lewatin tata surya.  Lupakan itu.  Kamu 2 kali melewatiku di setiap revolusimu. Dan waktunya tidak pernah tentu. Kurun waktu pada 1 revolusi memang singkat. Tapi antar revolusi, sangatlah lama. Ketika kamu akan melewatiku, aku bisa melihatmu dari dekat. Aku bisa melihatmu sedekat itu. Yang aku lihat pas kamu lewat tuh, kamu bahkan tampak jauh lebih dekat dari Mars, Venus, atau Bulan sekalipun. Super deket sampai kupikir aku bisa menggapaimu.  Dan yang baru aku sadari adalah:  Itu cuma halusinasi  Lintasan kita bahkan sama sekali tidak dekat. Di antara lintasan kita, masih ada lintasan-lintasan lain. Ada juga sabuk asteroid. Itu artin...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...

Sampai Jumpa

16 J ULI - 11 A GUSTUS 2012 P RA P ELATNAS G ARUDA E MAS II 2012 Sebulan yang menyimpan setahun kenangan.                                        sejuta memori                                 dan setangkup kebersamaan Ketika erat genggaman terpaksa terurai,            karena harus melepas dan ketika perpisahan telah di depan mata. Hati ini menolak. Namun dipaksa untuk menerima.                                      You.                                       I.         or                       ...

Let Go

hanya karena beberapa kata yang dikirimkannya padaku. kata-kata yang sebenarnya tidak ada arti mendalam, tidak berkesan sama sekali bahkan. tapi kata-kata itulah yang sanggup membuatku kembali bersemangat, walaupun hanya sekedar "Hai", "Halo", atau "Lagi apa?". kata basa-basi yang basi banget. lama kelamaan, semua itu memudar. kabut yang datang perlahan namun pasti mulai menutupi sosoknya. lama kelamaan, kabut itu semakin tebal sampai kita tidak bisa saling melihat lagi. aku sangat ingin mencarinya. aku pun menerobos kabut tebal yang dingin. mencari, dan terus mencari tanpa kenal lelah. sampai akhirnya, aku menemukannya. setelah pencarian panjang yang melelahkan itu akhirnya aku menemukannya. ada seseorang disampingnya yang bisa membuat tertawanya tambah riang. aku menutup mata, dan berharap ketika membuka mata pemandangan itu telah hilang. tapi tidak. pemandangan itu semakin jelas. aku terus memperhatikan, dan menunggu. menunggu dia me...

Sendiri

Disini. aku duduk sendiri Disini. aku selalu sendiri Disini. aku melihat orang-orang melewatiku; dan tak ada yang berhenti, bahkan hanya untuk tersenyum padaku. Tiba-tiba. seseorang duduk di sampingku; ia merangkulku; ia menghiburku; ia menyemangatiku. Tapi kemudian ia berdiri kembali; ia menatapku sesaat; ia berjalan menjauh; ia mulai berlari; ia berlari semakin cepat, dan; ia hilang dari pandanganku. aku sakit aku sedih aku bingung aku marah aku kesal dan, aku kembali sendiri. kemudian seseorang yang lain datang menghampiriku; pelan ia mulai duduk di sampingku; pelan ia mulai merangkulku; pelan ia mulai menghiburku; pelan ia mulai menyemangatiku. tapi aku menghancurkannya; aku lepas rangkulannya; aku acuhkan semua kata-katanya; aku tidak mau melihat...

far, far away.... from me

Sedih, sakit. Yang masih saja membuatku bingung hingga saat ini adalah, ”Apa salah gua? Kenapa lu ngejauhin gua?” Dua buah pertanyaan yang sangat mudah dijawab, jika ada jawabannya. Tentu sulit jika kau memang tak punya alasan apapun untuk menjauhiku. Pada awalnya, aku yang kaget dan bingung hanya berfikir, mungkin ini hanya perasaanku saja. Semakin lama, perasaan itu makin dalam dan makin meluas. Sampai akhirnya tidak terbendung lagi. Dan rasa tidak enak itu pun keluar. Aku tahu perasaanku ketika itu benar. Aku tahu kau memang menjauhiku. Dan hanya satu hal yang aku ingin ketahui tentang itu: KENAPA? Satu kata yang bisa mengawali semua pertanyaanku. Kenapa lu tiba-tiba tiis? Kenapa lu jadi jahat? Kenapa lu ga pernah waro gua lagi? Kenapa bahasa lu berubah, jadi kasar? Kenapa lu tiba-tiba jauhin gua? .... Kenapa....? Kenapa..? Kenapa?? Dan ribuan kalimat berawalan kata ’kenapa’ yang terlontar dari mulutku, mungkin memang tak pernah cukup...

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Hening, Detik, Kita.

satu pertanyaan itu, adalah sebuah pertanyaan mematikan. yang akan mengeruak semuanya, dan akan menyakiti yang lainnya. Maka ketika pada akhirnya pertanyaan itu terlontarkan, semua diam. keadaan hening. Dan di waktu seperti itu, hanya jam yang berani bersuara. satu detik, dua detik, tiga detik... detik-detiknya, bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja. empat detik, lima detik, enam detik... waktu terus berkurang, dan keheningan masih mengisi ruangan ini tujuh detik, delapan detik, sembilan detik... entah sampai kapan, jam ini akan terus berdetik entah sampai kapan, keheningan akan terus ada mungkin hanya waktu yang tahu, kapan semua ini akan berakhir -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...