Skip to main content

Dualisme dalam Satu Jiwa

Aku benci padamu. Aku benci pada setiap ucap yg tak pernah terwujud. Aku benci pada dinginmu. Aku benci pada tidak peka mu. Aku benci padamu.

Namun aku teramat mencintaimu. Terlalu dalam. Terlalu mencintai segala ucap dan bukan ucapmu yang selalu berhasil membuat hatiku tersenyum. Bibirku tersenyum. 

Aku terlalu mencintaimu, sehingga aku selalu bisa memaafkanmu. Mungkin terlalu mudah memaafkanmu. Tanpa perlu kau memintanya. Bahkan mungkin sudah kuberikan maaf itu sebelum kau menyadarinya. Sebelum kau tahu kesalahanmu. Sebelum kau sadar kalau kau seharusnya meminta maaf. 

Mungkin aku terlalu menyayangimu. Sehingga maaf itu diberi secara percuma. Mungkin sebagai hadiah. Simbol rasa cinta yang akan sulit kau pahami. 

Apakah orang sepertimu akan menyadarinya? Manusia tiis dan polos yang selalu iya saat berkata iya dan tidak saat berkata tidak. Begitu apa adanya. Begitu jujur.

Pernahkah kau merasakan sakit? Mungkin... sakit yang sama? 

Apakah mungkin, seorang sepertimu merasakan sakit? 

Kau selalu bisa mengabaikan hal kecil, atau hal besar yang anggapmu tak penting. Membuatmu bertahan di kejamnya dunia.

Namun terkadang membuatmu bosan hidup di dalamnya.

Aku benci padamu. Namun rasa cinta ini sanggup mengusir segala rasa benci itu.
Aku sayang padamu.
Aku cinta padamu.
Aku harap kau selalu merasakan yang sama.

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...