Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia.
Begitu pikirnya.
Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak.
Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu.
Dan ia pun mulai bermonolog.
"Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya.
Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna.
Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin.
dan ga pernah ada kapoknya.
Terus aja dilakuin. Yang kaya gitu, namanya berani atau bodoh?! baik atau lugu?!
Toh kalo saya yang kaya gitu juga ga ada yang peduli.
JADI APA?!"
Gadis terdiam sejenak.
"Bodoh. Lugu. Sok baik. Sok perhatian. Sok care!!!
Mending kalo ada yang care balik, nah ini?!
NASIB MAKHLUK KEPO!!"
Gadis terdiam lagi.
"Gue ingin digituin maka gue ngegituin. tapi tetep gaada gunanya. BEGO! SEMUANYA BEGO!
DAN YANG LEBIH BEGO LAGI, YA GUE!
manusia paling....... ergh!!!!!!!!!! padahal gue inginnya tuh diperlukan oleh seseorang pas dia sedih. gue ingin banget punya best friend. Yang really BEST. 4ever!
Tapi ya, gini gini aja.
HUFT PISAN.
Dan pada akhirnya, gue cuma bisa hidup di dunia mimpi. dunia khayalan. dunia cerita. dunia imajinasi.
Karena hidupku adalah sebuah novel.
sekian. "
"Kamu terlalu terfokus pada seseorang yang kamu inginkan, sampai kamu melupakan orang yang menginginkanmu.
kamu terlalu berambisi untuk diinginkan oleh seseorang sebagai tempat menumpahkan keluh kesah. tapi kamu jadi ga.... nyadar kalo ada juga yang gitu ke kamu.
Kamu... masih menutup mata. Kau cuma melihat apa yang ingin kamu lihat. Yang pada akhirnya, itu semua hanya fatamorgana.
Kamu harus membuka matamu.
Dan lihat, betapa kamu sangat berarti bagi orang-orang di sekitarmu."
Gadis langsung terpaku. Dan ia mulai menangis.
Gadis benci orang ini. Karena dia benar.
Gadis benci dirinya sendiri.
Gadis menyesal.
namun,
Bagaimana caranya berubah?
Begitu pikirnya.
Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak.
Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu.
Dan ia pun mulai bermonolog.
"Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya.
Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna.
Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin.
dan ga pernah ada kapoknya.
Terus aja dilakuin. Yang kaya gitu, namanya berani atau bodoh?! baik atau lugu?!
Toh kalo saya yang kaya gitu juga ga ada yang peduli.
JADI APA?!"
Gadis terdiam sejenak.
"Bodoh. Lugu. Sok baik. Sok perhatian. Sok care!!!
Mending kalo ada yang care balik, nah ini?!
NASIB MAKHLUK KEPO!!"
Gadis terdiam lagi.
"Gue ingin digituin maka gue ngegituin. tapi tetep gaada gunanya. BEGO! SEMUANYA BEGO!
DAN YANG LEBIH BEGO LAGI, YA GUE!
manusia paling....... ergh!!!!!!!!!! padahal gue inginnya tuh diperlukan oleh seseorang pas dia sedih. gue ingin banget punya best friend. Yang really BEST. 4ever!
Tapi ya, gini gini aja.
HUFT PISAN.
Dan pada akhirnya, gue cuma bisa hidup di dunia mimpi. dunia khayalan. dunia cerita. dunia imajinasi.
Karena hidupku adalah sebuah novel.
sekian. "
"Kamu terlalu terfokus pada seseorang yang kamu inginkan, sampai kamu melupakan orang yang menginginkanmu.
kamu terlalu berambisi untuk diinginkan oleh seseorang sebagai tempat menumpahkan keluh kesah. tapi kamu jadi ga.... nyadar kalo ada juga yang gitu ke kamu.
Kamu... masih menutup mata. Kau cuma melihat apa yang ingin kamu lihat. Yang pada akhirnya, itu semua hanya fatamorgana.
Kamu harus membuka matamu.
Dan lihat, betapa kamu sangat berarti bagi orang-orang di sekitarmu."
Gadis langsung terpaku. Dan ia mulai menangis.
Gadis benci orang ini. Karena dia benar.
Gadis benci dirinya sendiri.
Gadis menyesal.
namun,
Bagaimana caranya berubah?
Comments
Post a Comment