Skip to main content

Surat untuk Komet

Dear Komet.

Hai, Komet. 

Kamu tau ga? Kita punya lintasan masing-masing, yang tidak bisa dilanggar. Aku gabisa masuk lintasan mu, dan kamu pun ga bisa masuk ke lintasan ku. Lintasan mu lonjong. Jauh ke ujung tata surya. Aku yakin kalo kamu sering ngejelajahin tatasurya. Jadi kamu udah sering banget lewatin tata surya. 

Lupakan itu. 

Kamu 2 kali melewatiku di setiap revolusimu. Dan waktunya tidak pernah tentu. Kurun waktu pada 1 revolusi memang singkat. Tapi antar revolusi, sangatlah lama. Ketika kamu akan melewatiku, aku bisa melihatmu dari dekat. Aku bisa melihatmu sedekat itu. Yang aku lihat pas kamu lewat tuh, kamu bahkan tampak jauh lebih dekat dari Mars, Venus, atau Bulan sekalipun. Super deket sampai kupikir aku bisa menggapaimu. 

Dan yang baru aku sadari adalah: 
Itu cuma halusinasi 

Lintasan kita bahkan sama sekali tidak dekat. Di antara lintasan kita, masih ada lintasan-lintasan lain. Ada juga sabuk asteroid. Itu artinya, kamu tidak benar-benar dekat dengan ku. Saat itu, aku ga pernah bisa menggapaimu. Kamu bagaikan mendekat dan menjauh. Ketika kamu dekat, ekormu panjang di belakangmu, dan kaupun bercahaya. 

Terang dan sangat indah. 

Akan tetapi setelah kau lewat, cahaya itu pun menghilang. Dan saat kau menjauh, kamu menjadi gelap dan suram. Tidak terlihat. Aku tidak akan pernah tau kamu pas kamu menjauh dariku. Yang aku tahu, pas kamu menjauh itu, kamu menyerap banyak zat. Untuk kamu keluarkan saat dekat denganku. Dan yang baru aku sadari juga, kamu tuh kalau lewat cepat sekali. Dan aku rasa, itu lama banget. Rasanya tiap kamu lewat, waktu berhenti. 

Kau terlalu indah, Komet. 


Sincerely,
Bumi

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...