Skip to main content

Ma Salah? Mas Alah? Masa Lah? Masal Ah?

Bandung, 6 Oktober 2014

Masalah adalah sesuatu yang selalu muncul, dan tidak akan pernah berhenti muncul di hidup kita sampai kita meninggal.

Hidup kita bukan hanya sekadar untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Masalah-masalah itu datang bukan hanya untuk kita usir dengan solusi. Namun, kita juga harus bisa menemukan sebuah atau beberapa solusi yang tepat untuk setiap masalah. Dan tidak berhenti sampai disitu. kita juga harus bisa menjadikan setiap masalah itu sebagai cermin, pengalaman, juga tolak ukur dalam bertindak untuk kehidupan kita selanjutnya. Karena hidup kita tidak berhenti setelah masalah selesai. Justru masalahlah yang berhenti setelah hidup kita telah usai.

Manusia adalah homo socius. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari orang lain. Termasuk dalam pemecahan masalah kita. Tidak semua masalah bisa kita atasi sendiri. Tidak semua masalah bisa kita temukan solusinya sendiri. Di saat kita bingung, ingatlah selalu ada manusia bernama teman yang bisa--yang seharusnya bisa--mendengarkan segala keluh-kesah kita. Memang tidak selamanya juga teman bisa memberikan solusi yang tepat untuk setiap masalah. Namun, hanya dengan bercerita pun kita bisa meringankan beban yang ada di hati dan pikiran kita. Setidaknya, kita bisa membagi sedikit beban di dalam hidup kita dengan orang lain.

Mungkin banyak juga yang berpikir;
"Aku takut membebani orang lain"
Pikiran itu sama sekali tidak salah. Namun dalam konteks ini, di saat seorang teman hendak membantumu dengan masalahmu, pikiran tersebut bisa dibilang salah. Karena dengan pikiran tersebut, kamu justru menyusahkan temanmu yang hendak membantumu. Ketahuilah, kawan. Sesungguhnya teman sejati itu akan selalu membantumu dalam keadaan apapun. tidak peduli sebusuk apapun kamu, teman sejati itu selalu ada. Bahkan tidaat kamu tidak ada, mereka akan selalu ada untukmu.

Tidak selamanya kita bisa menutup diri dari orang lain. Tidak selamanya kita bisa tertutup akan masalah yang kita hadapi dari orang lain. Tidak selamanya 'memendam' adalah solusi terbaik. Untuk banyak kasus, memendam hanya akan membuatmu stres tidak karuan. membuatmu berubah dari kamu yang biasa. Bahkan bisa jadi membuat apa yang seharusnya mudah, menjadi sulit dari sudut pandangmu. Memendam terlalu banyak, bahkan bisa menghancurkanmu dari dalam.

Mungkin awalnya memang sulit. Tapi 'awal' itu akan selalu ada. Mau sampai kapan kamu takut untuk memulai? Jika langkah pertama itu tidak pernah kamu jalani, bagaimana kamu bisa keluar dari jeratan masalah itu? Hanya orang yang berani untuk memulai lah yang bisa sukses.

Bagaimana jika di saat kita sudah berani untuk memulai, bahkan sudah akan melangkah, sudah mengangkat kaki, namun tidak tahu cara melangkah? tidak mengerti cara berbicara? Atau tidak tahu kemana harus menapakkan kaki? Untuk itulah kita mengenal diri kita. Dengan mengenal diri sendiri, kita bisa memelajari masalah kita. Kita bisa sedikit demi sedikit belajar untuk mengungkapkan masalah kita pada orang lain. Kita bisa menemukan orang yang tepat untuk diceritakan. Langkah pertama, mulailah mengenal dirimu sendiri.

Langkah pertama memang selalu berat. Namun kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak? Kuncinya adalah terus berusaha, jangan pernah menyerah. Ketika niat itu ada, lanjutkanlah. Jangan sampai berhenti apalagi melangkah mundur.

(...?)

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...