Skip to main content

Posts

Lucunya Manusia

Lihatlah manusia-manusia yang tak bisa sabar itu. Menuntut segalanya untuk datang segera. Tak inginkah mereka nikmati prosesnya? Ingin langsung dihampiri hasilnya saja. Merasa sudah cukup usaha, lalu lupa dengan Yang Maha Kuasa. Yakin sekali bisa dapat apa yang diinginkannya. Berjalan lurus dengan percaya dirinya. Oh, saking congkaknya, berjalan di lajur yang salah terasa wajar saja. Tiba-tiba, tak terlihat jurang di depan mata. Kaki kehilangan pijakan, jatuh bebas mengikis udara. Jatuh itu yang buat mereka ingat Sang Pencipta. Untuk kemudian sebagian memohon dengan nelangsa. Sebagian lagi sibuk memaki-maki-Nya. Seolah mereka terjerumus akibat-Nya. Mereka lupa, merekalah yang memilih jalannya. Bukan jalan yang diterangi dengan cahaya-Nya. Terukir dengan indah dalam kitab yang tak jarang hanya jadi penghias di balik pintu kaca. Jadi, salah siapa? Kadang manusia-manusia itu begitu lucu.
Recent posts

The Boss Baby: Babies vs Puppies

Beberapa bulan yang lalu, aku menonton sebuah trailer di timeline Line. Ceritanya, seorang bayi yang juga seorang bos. Menarik...  pikirku saat itu. Aku pikir filmnya sudah ada di bioskup. Namun ternyata, belum. Besoknya, belum. Beberapa hari kemudian, belum juga. Beberapa minggu kemudian, belum juga. Akhirnya dengan berat hati aku menyerah untuk menonton film yang terlihat lucu tersebut. Tiba-tiba, ada update- an dari salah satu Official Account (OA) tentang film di Line yang mengatakan bahwa The Boss Baby sudah mulai tayang di Indonesia. Langsunglah saya pergi ke bioskop terdekat dan grab a ticket. Kisah dimulai dari imajinasi Tim, seorang anak tunggal yang memiliki daya imajinasi yang tinggi. Ini aku suka banget. Ga ketebak. Suka banget cara Tim ngeliat realitas menjadi fantasi warna-warni yang ia jalankan sepenuh hati. Sekilas jadi inget Inside Out, pas si Riley kecil main loncat-loncatan di atas sofa terus ngeliat lantai kaya ada lava nya. He he. Btw, ...

Pasca-Kahiji (1)

Kemarin, menyenangkan. Hari ini pun, kami masih tersenyum jika terbayang. Biar aku cerita sedikit soal kemarin. Kemarin, salah seorang temanku (seniorku, lebih tepatnya) berulangtahun. Tepat tanggal 25 September. Dari berhari-hari sebelumnya, ia telah berharap akan mendapatkan kado medali emas pada hari ulangtahunnya. Pria itu pernah meraih medali emas pada event yang sama, empat tahun lalu. Jika dilihat dari umurnya, tahun ini mungkin menjadi kali terakhir ia mengikuti  event ini. Ia berlatih sangat giat, tentu saja. Semua ia lakukan untuk mempertahankan prestasi yang pernah ia raih. Benar kata orang-orang itu, mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Apalagi, peta kekuatan lawan menunjukkan bahwa lawan-lawan yang kuat tersebar di seluruh penjuru tanah air. Jangankan dia, kami pun agak tertegun melihat kemampuan mereka. Walaupun, yah, bagaimanapun kami tetap beranggapan ia masihlah yang terbaik. Kemarin, salah satu lawan kuat dari pria itu tampil di nomor urut ...

Kahiji

Pagi ini, kami masuk ke arena. Wah, besar sekali! Dua lapang hamparan biru-kuning. Menyilaukan mata. Poster besar bertuliskan event  raksasa yang kami ikuti. Menggetarkan jiwa. Ah, iya. Kami harus tetap fokus, semangat, dan berdoa. Waktu terasa begitu lambat, sekaligus begitu cepat. Kami menonton finalis-finalis sebelum kami, sembari beberapa kali memanjatkan doa. Tidak, kami tidak menjelekkan mereka. Tidak boleh.  Kami hanya berharap mendapatkan yang terbaik. Boleh, kan? Kami hanya berharap mendapatkan juara pertama. Boleh, kan? Giliran kami hampir tiba. Kami turun ke tempat persiapan. Semua mempersiapkan dengan giat. Wah, kami tidak boleh kalah! Pikir kami. Kami rapatkan bariskan, samakan persepsi, sejajarkan gerak. Hingga akhirnya kami berhenti sebelum lelah. Giliran kami tiba. Kami masuk ke arena untuk kedua kalinya hari ini. Bismillahirrahmanirrahim... Bismillahirrahmanirrahim... Lagi-lagi, panjatan doa tak henti mengalun lirih. Kami tampil semaksim...

Pra-kahiji

Ya, besok adalah hari kami. Hari dimana kami mempertaruhkan segala waktu yang telah habis demi melatih diri kami. Demi masyarakat Jawa Barat. Ah, separuh hati ini merasa ingin segera berakhir. Apapun hasilnya, bagaimana nanti! Yang penting, semua ini segera berakhir dan kami bisa lepas dari kerangkeng ini. Namun, separuh hati yang lain berdegup terlalu kencang. Ia kemudian mengirimkan sinyal-sinyal kemungkinan pada otak. "Bagaimana kalau kita gagal?" "Bagaimana kalau semuanya jadi sia-sia?" "Jika kita gagal karena kesalahan pribadi, haruskah kita kecewa?" Bayangan kegagalan menghantui, menguasai alam bawah sadar kami. Kalimat penenang itu muncul. Terus menerus. Dari arah yang beragam. "Tenang, kalian sudah berlatih segiat ini. Pasti hasilnya bagus"  "Just do your best and you'll be the best!"  "Kalian ini orang- orang terpilih! Orang-orang terbaik!!"  "Usaha takkan mengkhianati hasil"...

Let's Escape for a While

Entah mengapa, kadang dunia nyata dan mimpi terasa begitu saru. Tak hanya sekali, berkali-kali aku rasakan perasaan seperti ini. Hampa melayang seolah aku terbang. Tidak, aku tidak bahagia. Aku tidak pula sedih. Entah pula apa yg aku rasakan. Terkadang, segala yang ada di hadapanku ini terasa tidak nyata. Entahlah, kadang aku berpikir semua hanyalah ilusiku. Mimpi yang terlalu indah itu membawaku menjauh dari dunia nyata. Kenyataan bahwa dunia nyata ini adalah sesuatu yang fana..... menohokku lebih dalam dan membuatku ingin berhenti berpikir. Tidak, tidak. Aku bukan ingin berhenti berpikir. Lebih tepatnya, aku berusaha untuk menolak segala realitas di dunia nyata ku. Bagaimana tidak, dunia nyata ini ternyata fana dan dunia mimpiku lebih menyenangkan! Mirisnya, aku ingin terkungkung di dunia mimpi selamanya. Mental bodoh dan lemah. Menolak untuk menghadapi tantangan hidup, cih!

Dualisme dalam Satu Jiwa

Aku benci padamu. Aku benci pada setiap ucap yg tak pernah terwujud. Aku benci pada dinginmu. Aku benci pada tidak peka mu. Aku benci padamu. Namun aku teramat mencintaimu. Terlalu dalam. Terlalu mencintai segala ucap dan bukan ucapmu yang selalu berhasil membuat hatiku tersenyum. Bibirku tersenyum.  Aku terlalu mencintaimu, sehingga aku selalu bisa memaafkanmu. Mungkin terlalu mudah memaafkanmu. Tanpa perlu kau memintanya. Bahkan mungkin sudah kuberikan maaf itu sebelum kau menyadarinya. Sebelum kau tahu kesalahanmu. Sebelum kau sadar kalau kau seharusnya meminta maaf.  Mungkin aku terlalu menyayangimu. Sehingga maaf itu diberi secara percuma. Mungkin sebagai hadiah. Simbol rasa cinta yang akan sulit kau pahami.  Apakah orang sepertimu akan menyadarinya? Manusia tiis dan polos yang selalu iya saat berkata iya dan tidak saat berkata tidak. Begitu apa adanya. Begitu jujur. Pernahkah kau merasakan sakit? Mungkin... sakit yang sama?  Apakah mung...