Pagi ini, kami masuk ke arena. Wah, besar sekali! Dua lapang hamparan biru-kuning. Menyilaukan mata. Poster besar bertuliskan event raksasa yang kami ikuti. Menggetarkan jiwa. Ah, iya. Kami harus tetap fokus, semangat, dan berdoa.
Waktu terasa begitu lambat, sekaligus begitu cepat. Kami menonton finalis-finalis sebelum kami, sembari beberapa kali memanjatkan doa. Tidak, kami tidak menjelekkan mereka. Tidak boleh.
Kami hanya berharap mendapatkan yang terbaik. Boleh, kan? Kami hanya berharap mendapatkan juara pertama. Boleh, kan?
Giliran kami hampir tiba. Kami turun ke tempat persiapan. Semua mempersiapkan dengan giat. Wah, kami tidak boleh kalah! Pikir kami. Kami rapatkan bariskan, samakan persepsi, sejajarkan gerak. Hingga akhirnya kami berhenti sebelum lelah.
Giliran kami tiba. Kami masuk ke arena untuk kedua kalinya hari ini.
Bismillahirrahmanirrahim... Bismillahirrahmanirrahim...
Lagi-lagi, panjatan doa tak henti mengalun lirih.
Kami tampil semaksimal yang kami bisa, untuk kemudian keluar dari arena dengan senyum lega. Disusul dengan rentetan doa yang tak berhenti mengalun hingga finalis terakhir menyelesaikan penampilan mereka. Syukurlah telah selesai, begitulah kira-kira pikir kami.
Kami berpelukan bahagia melihat nama kami tertera di peringkat pertama. SAPU BERSIH!!! Seru pelatih kami di samping. Sebagai kelas penutup, kami adalah penentu apakah katagori kami akan menyapu bersih seluruh medali emas. Alhamdulillah, kami berhasil menjadi penutup yang manis.
Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Kata syukur tak henti kami ucap. Air mata bahagia sempat mampir sesaat untuk memberi salam pada kemenangan. Aku tak pernah menyangka, kelelahan bisa berbuah semanis ini.
Kami memeluk orangtua kami yang tersenyum bangga. Senyum yang tak pernah turun hingga kami turun dari podium pertama. Rentetan cahaya kamera membanjiri arena. Pertanyaan-pertanyaan meluncur dengan bebas. Kami menjawab dengan tenang, dan senang.
Terimakasih, ya Allah.
[2/4]
Comments
Post a Comment