Skip to main content

Pra-kahiji

Ya, besok adalah hari kami. Hari dimana kami mempertaruhkan segala waktu yang telah habis demi melatih diri kami. Demi masyarakat Jawa Barat.
Ah, separuh hati ini merasa ingin segera berakhir. Apapun hasilnya, bagaimana nanti! Yang penting, semua ini segera berakhir dan kami bisa lepas dari kerangkeng ini.
Namun, separuh hati yang lain berdegup terlalu kencang. Ia kemudian mengirimkan sinyal-sinyal kemungkinan pada otak.

"Bagaimana kalau kita gagal?"
"Bagaimana kalau semuanya jadi sia-sia?"
"Jika kita gagal karena kesalahan pribadi, haruskah kita kecewa?"

Bayangan kegagalan menghantui, menguasai alam bawah sadar kami.
Kalimat penenang itu muncul. Terus menerus. Dari arah yang beragam.

"Tenang, kalian sudah berlatih segiat ini. Pasti hasilnya bagus" 
"Just do your best and you'll be the best!" 
"Kalian ini orang- orang terpilih! Orang-orang terbaik!!" 
"Usaha takkan mengkhianati hasil"
"Lakukan yang terbaik, dan jangan lupa untuk selalu berdoa"

Kami memejamkan mata. Memanjatkan harap kami kepada Yang Maha Kuasa. "Ya tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Aamiin" menjadi kalimat penutup yang tak pernah tertinggal.

[1/4]

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...