Skip to main content

Pasca-Kahiji (1)

Kemarin, menyenangkan. Hari ini pun, kami masih tersenyum jika terbayang.

Biar aku cerita sedikit soal kemarin.

Kemarin, salah seorang temanku (seniorku, lebih tepatnya) berulangtahun. Tepat tanggal 25 September. Dari berhari-hari sebelumnya, ia telah berharap akan mendapatkan kado medali emas pada hari ulangtahunnya. Pria itu pernah meraih medali emas pada event yang sama, empat tahun lalu. Jika dilihat dari umurnya, tahun ini mungkin menjadi kali terakhir ia mengikuti event ini.

Ia berlatih sangat giat, tentu saja. Semua ia lakukan untuk mempertahankan prestasi yang pernah ia raih. Benar kata orang-orang itu, mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Apalagi, peta kekuatan lawan menunjukkan bahwa lawan-lawan yang kuat tersebar di seluruh penjuru tanah air. Jangankan dia, kami pun agak tertegun melihat kemampuan mereka. Walaupun, yah, bagaimanapun kami tetap beranggapan ia masihlah yang terbaik.

Kemarin, salah satu lawan kuat dari pria itu tampil di nomor urut satu. Dengan perasaan yang tidak karuan, kami menonton penampilannya. Bagus, pujiku saat itu. Perasaan kami semakin tidak karuan ketika melihat nilai yang muncul. Peserta-Nomor-Urut-Satu itu, berhasil mencetak nilai yang amat tinggi, bahkan hampir menyentuh angka sembilan (dari skala sepuluh)!! Kami kaget, tentu saja. Wah, standar nilainya tinggi sekali.. Begitulah kira-kira pikirku saat itu. 

Peserta demi peserta tampil, namun belum ada yang berhasil menggeser Peserta-Nomor-Urut-Satu itu. Bahkan, peserta yang menurutku bagus pun hanya menempati posisi kedua. Lalu peserta yang memiliki citra yang bagus sebagai "milik negara", kalah oleh seorang yang sudah pensiun menjadi "milik negara". 

Ada apa ini? Tanyaku keheranan. 

Sebenarnya, aku agak heran dengan penilaian hari itu. Seolah mereka menggunakan standar yang berbeda-beda. Tapi, apalah dayaku? Aku pandai dalam hal penampilan, bukan penilaian.

Sampai akhirnya, tibalah saat teman kami tampil. Kami tidak bersorak, tidak. Kami berdoa. Berharap agar ia menampilkan penampilan terbaiknya. Lalu setelah ia selesai tampil, kami berdoa agar ia mendapatkan nilai yang baik.

TING!!!

Seketika, nama pada peringkat pertama berubah. Teman kami menduduki peringkat pertama dengan nilai sembilan dari skala sepuluh!!! Kami kaget, tapi juga bahagia. Aku bisa melihat kebahagiaan yang sama terpancar pada wajahnya.

Lalu malam itu, usai pertandingan, empat kue ulangtahun datang sebagai ucapan selamat. Aku terheran-heran dan tertawa kecil. Satu dari orangtuanya, satu dari kekasihnya, satu dari kami, dan satu dari...? (entah siapa, aku lupa).

Jika aku berada pada posisinya, mungkin itu adalah hari ulangtahun terbaikku.

[3/4]

Comments

Popular posts from this blog

Jauh

Di tengah keramaian ini, aku berjalan dalam kesendirian. ramainya tak sampai ke hatiku. Di tengah kerumunan ini, Aku sendiri. Aku berada di antara mereka, tapi aku jauh Mencoba mencari hatiku, yang mengelana entah kemana Mungkinkah... Ia mengelana terlalu jauh, sehingga tersesat? Mungkinkah... Ia jatuh sakit, sehingga tak bisa kembali? Atau mungkin, sesuatu yang bernama Cinta,  telah membunuhnya? -MKc-

Sahabat

Dua manusia Satu tujuan Satu cita-cita B senang melihat A. dan sahabatnya, C, selalu mendukungnya. C selalu bisa melihat perkembangan B dengan A. tapi B, yang menceritakan itu semua, tak menyadari sebuah kaca gelap diantara mereka. Kaca gelap yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu sisi C. B melihat A memang hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, tapi tanpa sadar ia telah membaginya dengan C. Tanpa ia sadari, ia telah membantu C melihat A dari sisi lain. Tapi ia sendiri, tak bisa seperti itu. B selalu tenang jika A bersama C. Karena ia tahu, C, adalah sahabatnya. Tapi, B tidak juga sangat buta, ataupun tuli. Ia tetap bisa mendengar, dan melihat perkataan serta perbuatan orang-orang lain di sekitarnya. Ia juga masih punya hati, sehingga bisa merasakan, apa yang C rasakan. Semua prasangkanya itu selalu ia tepis dengan kalimat, C adalah sahabatku. C adalah sahabatku. tapi, itu tak selamanya berhasil. Menjadi sahabat bukan berarti tidak boleh menyukai orang ya...

Gadis

Gadis terdiam. Menunduk. Berusaha sembunyi dari dunia. Ia ada di dunia pun sepertinya tidak ada gunanya. Ga ada bedanya. Toh ga ada yang butuh dia. Begitu pikirnya. Tapi, sesering apapun Gadis berfikiran seperti itu, ga pernah terlintas di benaknya untuk bunuh diri. TIDAK, Gadis bukan orang seperti itu. setidaknya ia masih menghargai hidupnya, walaupun ia tidak yakin apakah orang lain menghargainya juga atau tidak. Gadis menyetel lagu, lalu mensetnya ke volume yang paling keras. Di bukit hijau yang sepi ini, siapa juga yang bakal denger? Apalagi merasa terganggu. Dan ia pun mulai bermonolog. "Aku paling ga tahan kalo ngeliat orang kaya gitu tadi. ingin rasanya tuh ngibur dia, gimanapun caranya. Tapi buat apa juga? Toh orangnya ga peduli. Jadi buat apa gue berusaha? Worthless semua. Worthless emang sih. Ga guna. Tapi ya, saya emang gini, kerjaannya ngelakuin hal yang ga guna. Yang... udah tau bakal gimana hasilnya, tetep aja dilakuin. dan ga pernah ada kapoknya. Terus a...