Kemarin, menyenangkan. Hari ini pun, kami masih tersenyum jika terbayang.
Biar aku cerita sedikit soal kemarin.
Kemarin, salah seorang temanku (seniorku, lebih tepatnya) berulangtahun. Tepat tanggal 25 September. Dari berhari-hari sebelumnya, ia telah berharap akan mendapatkan kado medali emas pada hari ulangtahunnya. Pria itu pernah meraih medali emas pada event yang sama, empat tahun lalu. Jika dilihat dari umurnya, tahun ini mungkin menjadi kali terakhir ia mengikuti event ini.
Ia berlatih sangat giat, tentu saja. Semua ia lakukan untuk mempertahankan prestasi yang pernah ia raih. Benar kata orang-orang itu, mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Apalagi, peta kekuatan lawan menunjukkan bahwa lawan-lawan yang kuat tersebar di seluruh penjuru tanah air. Jangankan dia, kami pun agak tertegun melihat kemampuan mereka. Walaupun, yah, bagaimanapun kami tetap beranggapan ia masihlah yang terbaik.
Kemarin, salah satu lawan kuat dari pria itu tampil di nomor urut satu. Dengan perasaan yang tidak karuan, kami menonton penampilannya. Bagus, pujiku saat itu. Perasaan kami semakin tidak karuan ketika melihat nilai yang muncul. Peserta-Nomor-Urut-Satu itu, berhasil mencetak nilai yang amat tinggi, bahkan hampir menyentuh angka sembilan (dari skala sepuluh)!! Kami kaget, tentu saja. Wah, standar nilainya tinggi sekali.. Begitulah kira-kira pikirku saat itu.
Peserta demi peserta tampil, namun belum ada yang berhasil menggeser Peserta-Nomor-Urut-Satu itu. Bahkan, peserta yang menurutku bagus pun hanya menempati posisi kedua. Lalu peserta yang memiliki citra yang bagus sebagai "milik negara", kalah oleh seorang yang sudah pensiun menjadi "milik negara".
Ada apa ini? Tanyaku keheranan.
Sebenarnya, aku agak heran dengan penilaian hari itu. Seolah mereka menggunakan standar yang berbeda-beda. Tapi, apalah dayaku? Aku pandai dalam hal penampilan, bukan penilaian.
Sampai akhirnya, tibalah saat teman kami tampil. Kami tidak bersorak, tidak. Kami berdoa. Berharap agar ia menampilkan penampilan terbaiknya. Lalu setelah ia selesai tampil, kami berdoa agar ia mendapatkan nilai yang baik.
TING!!!
Seketika, nama pada peringkat pertama berubah. Teman kami menduduki peringkat pertama dengan nilai sembilan dari skala sepuluh!!! Kami kaget, tapi juga bahagia. Aku bisa melihat kebahagiaan yang sama terpancar pada wajahnya.
Lalu malam itu, usai pertandingan, empat kue ulangtahun datang sebagai ucapan selamat. Aku terheran-heran dan tertawa kecil. Satu dari orangtuanya, satu dari kekasihnya, satu dari kami, dan satu dari...? (entah siapa, aku lupa).
Jika aku berada pada posisinya, mungkin itu adalah hari ulangtahun terbaikku.
[3/4]
Comments
Post a Comment